Pasar Properti di Thailand Bersiap Hadapi Perlambatan Pasar

Pasar Properti di Thailand Bersiap Hadapi Perlambatan Pasar

Seluruh subsektor properti di Thailand kecuali kawasan industri dan logistik, diprediksi akan menghadapi perlambatan pasar setidaknya hingga 18 bulan ke depan atau sampai dengan terjadinya pemulihan ekonomi yang diperkirakan paling cepat pada tahun depan.

Thailand JLL Chairperson, Suphin Mechuchep, mengatakan, beberapa subsektor seperti perkantoran, kondominium, hotel dan pasar ritel di Bangkok akan menghadapi penurunan mulai dari penurunan sewa, harga serta okupansi hunian. Sementara, untuk segmen industri, logistik dan gudang justru bergerak sebaliknya atau akan tetap bertumbuh.

“Pasar sewa dan hunian untuk industri, logistik, dan gudang mengalami tren kenaikan karena didorong oleh kuatnya permintaan dari e-commerce dan bisnis online yang mengalami pertumbuhan selama pandemi atau sejak Februari 2020 lalu,” ujar Suphin, seperti dilansir dari portal berita bangkokpost, Rabu (21/7).

Suphin menuturkan, JLL sendiri memperkirakan pasar properti di Thailand baru akan mulai pulih dalam waktu 18 hingga 24 bulan ke depan setelah kondisi ekonomi mulai pulih yang diperkirakan paling cepat terjadi pada kuartal kedua 2022 mendatang. Menurutnya, proses pemulihan ini akan lebih cepat berakselerasi jika pemerintah memberlakukan langkah-langkah stimulus untuk pasar properti sehingga permintaan akan menjadi lebih tinggi.

“Pinjaman hipotek berbunga rendah atau peningkatan kuota kepemilikan asing untuk kondominium dari maksimum saat ini 49% menjadi tidak lebih dari 75% atau kepemilikan asing untuk hunian low rise adalah beberapa contoh kebijakan yang bisa membantu,” sebut Suphin.

 

Pasar Kondominium melemah

Suphin menambahkan, jumlah kondominium yang tidak terjual di Bangkok akan terus bertambah hingga 12-18 bulan ke depan. Padahal, sejak 2018, secara keseluruhan ada sekitar 12,700 unit kondominium yang berstatus on hold. Dari jumlah tersebut, 5,900 unit dibatalkan, 2,500 unit dibekukan, dan 4,300 unit batal diluncurkan.

Kondisi ini menyebabkan terbatasnya jumlah unit baru yang diluncurkan sehingga membuat harga rata-rata kondominium untuk semua kelas turun menjadi 101.900 baht atau sekitar Rp45 jutaan per meter persegi pada tahun ini.

Sementara itu, unit kondominium yang berada di area utama seperti kawasan pusat bisnis mengalami penurunan harga rata-rata menjadi 218.000 baht atau Rp96 jutaan per meter persegi. “Saat ini merupakan pasarnya end user, baik untuk penggunaan sendiri maupun untuk investasi jangka panjang,” kata Suphin.

Sebelumnya, World Bank (Bank Dunia) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Thailand menjadi 2,2% di tahun ini. Padahal Bank Dunia sempat memproyeksikan, ekonomi Thailand dapat tumbuh 3,4% sepanjang tahun 2021.

Menurut Bank Dunia, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Thailand ini dilakukan karena dampak dari gelombang ketiga infeksi Covid-19 dan industri pariwisata Thailand yang masih lemah. Disebutkan, ekonomi Thailand yang bergantung pada pariwisata mengalami kontraksi 6,1% di tahun lalu sekaligus tercatat sebagai kemerosotan terparah dalam lebih dari dua dekade terakhir.

Related post

PUPR Sosialisasikan UU Cipta Kerja Bidang Perumahan

PUPR Sosialisasikan UU Cipta Kerja Bidang Perumahan

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyosialisasikan peraturan turunan UU No. 11 Tahun 2020 (UU Cipta Kerja) bidang perumahan. UU…
Mengapa Pertumbuhan Bisnis Properti di India Bisa Mencetak Rekor Di Tengah Gelombang Kedua Covid-19?

Mengapa Pertumbuhan Bisnis Properti di India Bisa Mencetak Rekor…

Di paruh pertama 2021, pasar perumahan India tumbuh secara meyakinkan dibanding tahun 2020. Berdasarkan sejumlah data yang dikumpulkan dari Knight Frank…
Ini Penyebab China Alami Krisis Listrik Terburuk dalam Satu Dekade Terakhir

Ini Penyebab China Alami Krisis Listrik Terburuk dalam Satu…

Beberapa waktu terakhir, China mengalami krisis listrik terparah sejak satu dekade terakhir. Krisis ini bahkan disebut-sebut turut mempengaruhi perekonomian negeri tirai…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *